Langsung ke konten utama

Postingan

menjadi baik

menjadi baik bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban. menjadi baik tidak memiliki batas waktu atau tanggal kadaluarsa. malahan, kita betul-betul disembunyikan oleh kenyataan kapan tanggal kadaluarsa kita masing-masing untuk hidup di dunia ini menjadi baik bukanlah ilmu fisika yang membahas mengenai percepatan, bukan pula puisi yang mengharuskan kesempurnaan tanpa cacat. menjadi baik adalah sebuah proses pada setiap orang yang masing-masing memiliki waktu berbeda-beda untuk menjadi baik menurut versi yang menjadi acuannya.  jadilah baik, karena sebaik dan seburuk apapun kita berubah, orang-orang akan tetap terus berkomentar. namun, jangan sampai itu merubah niat awal kita untuk menjadi baik. hari ini aku bertemu orang-orang yang sedang berproses menjadi baik, mendengar cerita orang-orang yang hanif, bersemangat untuk menjadi baik tanpa kita sadari sejauh apapun kita melangkah dan mencari, pada akhirnya kita akan kembali ke se-benar-benar...

dek..

malam itu, bertemu kakak kelas jaman perkuliahan. akhwat. entah bagaimana, kami ngobrol begitu saja dan terhenti di topik yang itu lagi itu lagi. jodoh nasehatnya kira-kira begini "dek, seberapapun banyaknya lelaki yang mencoba mendekat, seberapapun banyaknya kamu menjalani taaruf, kalau Allah belum ridho berarti belum saatnya dek. Allah itu punya waktu yang tepat, jangan khawatir dengan jodoh yang belum ada saat ini." "jangankan yang di lisan, yang di hati saja Allah dengar. Dia hanya sedang menunggu doa-doamu untuk meminta. jangan bosan berdoa, jangan bosan meminta. teruslah memperbaiki diri. solatmu, ibadah sunnahmu, solat malammu, ngajimu, semuanya. perbaiki" Betul. jangan samakan dengan manusia, Allah yang Maha segala-galanya. Dia tidak merasa kerepotan untuk mengatur segala yang ada di dunia ini, Dia tidak merasa berat untuk sekedar menerbitkan dan menenggelamkan matahari. Apalagi hanya mengurusi hamba...

'rumah'

aku mencari rumah, tidak harus besar, tetapi nyaman untuk ditinggali. rumah dimana ada orang-orang tersayang yang menantimu pulang, yang bersedia mendengar keluh kesah dan berbagi lelahmu. . aku mencari rumah, bukan kemewahan yang aku cari. tetapi rumah sederhana yang cukup untuk kita tinggali bersama. ada kamar untuk beristirahat dan ada ruang untuk kita bercengkrama. . aku mencari rumah yang selalu aku rindukan untukku pulang, rumah yang menawarkan kenyamanan, jauh dari hiruk pikuk dan keramaian orang-orang dengan kesibukannya masing-masing. bukan rumah yang selalu aku hindari, selalu malas untuk tempatku pulang. . "adakah rumah yang cocok?" "aku belum menemukannya" "hmm, yang itu?" aku menggelengkan kepala "jika kamu memasuki sebuah rumah, lalu kamu merasa nyaman walau rumah itu kosong. barangkali rumah itulah yang pas untukmu"

pernikahan impian

Pernah baca di salah satu tumblr, kalau usia-usia sekarang memasuk quarter life crisis. Fase dimana kita disibukkan aktualisasi diri pada karir, pekerjaan, dan jodoh. Menjelang akhir tahun, banyak undangan pernikahan dari teman dan kerabat. lalu masing-masing akan berkaca dan bertanya, kapan gilirannya untuk bertemu jodohnya dan menikah? . . banyak kemungkinan yang terjadi ketika jodoh itu belum datang. terus khusnuznon, berusaha dan berdoa dirasa cara yang paling efektif untuk menunggu. bisa jadi, jodoh yang diharap-harap saat ini sedang mengumpulkan pundi-pundi agar bisa melamarmu. bisa jadi, jodoh yang diharapkan masih melanjutkan studinya dan juga merasa cemas semoga dirimu belum ada yang melamar. bisa jadi, jodoh dambaanmu sedang mengumpulkan keberanian untuk datang kerumah dan bicara dengan orangtuamu. bisa jadi, kita sedang diajarkan kesabaran untuk menunggu sambil terus belajar dan memantapkan hati karena pernikahan bukanlah sehari atau dua hari. bukan hanya enaknya saja ...

sahabat jadi cinta?

"saya tidak meyakini adanya persahabatan di antara laki-laki dan perempuan. yang akan terjadi, adalah ada salah satu pihak yang menaruh perasaan, atau keduanya memiliki perasaan satu sama lain. yang terjadi selanjutnya, persahabatan akan tetap terjalin sambil masing-masing membatasi perasaannya atau hancur sama sekali" sepanjang yang saya tahu, kita tidak pernah bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta. namun, cinta bisa tumbuh sedikit demi sedikit jika ada hati yang terpaut, kesamaan satu sama lain dan kebutuhan yang saling terlengkapi. . tidak salah mereka yang memilih untuk mengungkapkan perasaan yang dimilikinya kepada seseorang, sebagai jalan agar merasa lega dan perasaannya dapat diketahui oleh orang yang diincarnya. ada sebagian orang yang ketika menerima kejujuran perasaan dari orang lain, merasa senang, haru dan seolah menjadi orang yang paling bahagia saat itu. namun, ada sebagian yang lain ketika menerima kejujuran itu, merasa bingung, kikuk dan bertanya-...

ruang menerima

dulu, di usia yang belia, saya dan mungkin hampir semua teman sebaya sangat sempit mengartikan kata 'menerima'. saat gejolak remaja, kata-kata menerima semudah mengatakan 'cinta itu menerima apa adanya'. ternyata setelah dewasa, kata 'menerima' tidak lagi memiliki definisi yang sempit ketika sebagian dari kita di usia dewasa, mulai mencari dan memberanikan diri untuk membuka hati, disitulah kata 'menerima' diuji. ketika sepasang manusia kemudian memutuskan untuk masing-masing membuka diri, ada fase yang dinamakan sinkronisasi. menyamakan persepsi mengenai kehidupan, baik yang bersifat keseharian maupun prinsipal.  sebetulnya setiap orang telah memiliki standarnya masing-masing untuk kemudian mencari yang seirama, agar nantinya kehidupan yang dijalani menjadi sinkron. tidak mungkin dalam satu kapal memiliki dua nahkoda dengan tujuan yang berbeda, prinsip yang berbeda, maka pilihannya adalah kapal itu tidak akan sampai ke tujuan atau akan karam ...

merawat orang tua

Pepatah berbicara "kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang masa" Banyak fenomena dimana orangtua ditinggalkan begitu saja di panti jompo, padahal mereka memiliki anak-anak yang hidup dengan sukses dan dikatakan mapan dalam hal finansial. Pernah tidak, membayangkan betapa pedih perasaan orangtua yang telah membesarkan anak-anaknya sejak dari dalam kandungan hingga lahir dan tumbuh sedewasa ini tetapi pada akhirnya jasa mereka tidak terbayar. Mereka 'dititipkan' di panti jompo dengan alasan anak-anak tidak mampu untuk merawatnya karena tinggal berjauhan bahkan terpisah pulau, misalnya. Mungkin beberapa dari kita juga bisa lupa untuk mendoakan mereka, karena mungkin kita terlalu sibuk dengan dunia pekerjaan baru kita, keluarga kecil baru kita atau hal lain yang melenakan. Bekerja di rumah sakit membuatku selalu waspada tingkat tinggi untuk membayangkan kemungkinan terburuk dan berpikir hingga kematian. Betul bahwa kematian itu rahasia Tuhan. Namun, ti...