Langsung ke konten utama

Postingan

tentang memantaskan diri

Wanita itu terlihat sangat tenang, padahal pernikahannya tinggal seminggu lagi. Aku melihatnya sering mengisi waktunya dengan membaca buku tentang nasihat pernikahan, tilawah untuk memantapkan hati dan menjauhi fitnah. Aku tergelitik untuk bertanya sesuatu padanya "Mbak, apakah dulu mbak pernah meminta jodoh pada Tuhan?" "Iya, mbak meminta. Tapi jodoh memang datang di saat yang tidak pernah kita duga waktunya. Dulu pun mbak sangat penasaran rupa jodoh mbak seperti apa. Parasnya, keilmuannya, latar belakangnya. Apakah dia seseorangyang pernah kita kenal sebelumnya. Ya, seperti itulah" "Lalu ? Apakah yang ini sesuai dengan kriteria yang mbak minta?" "Pada dasarnya, kriteria itu hanyalah sebuah patokan, bukan suatu keharusan. Mas membuat mbak merasa nyaman, dan percaya atau tidak kita saling melengkapi. Dan memang betul, jodoh merupakan cerminan diri kita." Aku mendapat pencerahan dari pembicaraan ini, lalu kemudian aku kembali sibuk be...

Kereta

Sore itu, gadis itu berlari dengan tergesa. Mengingat jadwal keberangkatan kereta hanya tinggal 5 menit lagi. Sementara jalanan mulai padat dengan orang-orang, stasiun sibuk melayani banyak orang yang mengantri. "Aku harus buru-buru. Aku harus membagikan undangan pernikahanku pada teman-temanku", katanya dalam hati Berusaha sekuat tenaga menerobos kerumunan orang-orang, gadis itu melihat dari kejauhan. Tampak dari belakang, punggung seorang laki-laki yang sangat aku kenal. Rambutnya yang cepak dan potongannya rapih, jaket jeans yang selalu dia pakai hingga lusuh. Khas sekali Akhirnya aku menemukan kursi kosong tempatku duduk. Segera aku buka handphone 'Apakah kau di kereta?' 'Ya', ucapnya 'Kau khas sekali, seperti biasanya' Curiga, laki-laki itu berlari menelusuri tiap gerbong di kereta. Hingga akhirnya pandangannya terhenti pada gadis manis berjilbab yang sedang duduk memandangi handphone-nya, seperti menanti balasan sms. 'Hai' ...

Bersabarlah

Saat ini, kau mungkin masih disibukkan dengan segudang aktivitasmu, kegiatanmu yang selalu kau usahakan bermanfaat untuk banyak orang. Perawat, bukankah pekerjaan yang baik? Saat ini, kau mungkin sangat mencintai keluargamu, kerabat dan sahabat dekatmu, hingga pasien-pasienmu sehingga kamu lupa betapa ada seseorang yang menantimu disana. Kau terus berkaca, berdialog dengan diri sendiri mengenai kepantasan diri. Berbagai target sudah kau tetapkan untuk kau sejajarkan dengan dirimu. Sementara disana, seseorang terus memandangimu, mengamatimu dari jauh, memahamimu untuk kemudian dia ajak hidup bersama. Hingga saat itu datang, kau akan bertanya-tanya bagaimana bisa laki-laki itu mengenalku? Bagaimana bisa kau mengerti segala aktivitasku dan kebiasaanku sehari-hari? Lalu laki-laki itu menjawab 'Aku terus mengamatimu di setiap kebersamaan kita tanpa kau sadari. Lalu, setelah aku mengamati, aku meminta Tuhan untuk menyimpanmu untukku. Lalu sekarang, Tuhan yang memintaku untuk menj...

mintalah padaKu

Seringkali melihat anak kecil yang berjalan dituntun oleh ibunya, berjalan mengitari pusat perbelanjaan, melihat-lihat kemudian mata mungilnya tertuju pada sesuatu yang menarik hatinya. Entah baju, mainan atau makanan kecil kesukaannya. Lalu apa yang dilakukan oleh anak kecil itu? Dia meminta dengan halus oleh orangtuanya, jika tak disanggupi, ia akan merengek. Jika permintaannya tidak dikabulkan, ia akan menangis meminta sesuatu yang diinginkannya. Jangankan manusia, Tuhan pun ingin didekati, ingin dimintai oleh hambaNya. Apa permintaan terbesarmu? Apa harapanmu? Apa yang kau inginkan? Meminta tidak pernah salah, tidak hina di mata Tuhan. Meminta bukan berarti kau tak bisa melakukannya sendiri. Tuhan membantumu untuk memudahkan hal yang kau anggap mustahil untuk kau miliki, untuk kau gapai. With God, everything seems possible. Amazing Apa harapanmu? Apa keinginanmu? Sudah terkabulkah? Jika belum, mungkin kau belum bersungguh-sungguh meminta pada Tuhan, seperti anak kecil yan...

inilah rasa tenteram

pertanyaan ini sudah lama aku simpan "mengapa bahu laki-laki selalu lebih lebar  daripada perempuan?" mereka bilang, bahu sebagai tempat bersandar. tetapi, jika dilihat dengan seksama, tangan laki-laki pun selalu lebih panjang perempuan diciptakan lebih mungil daripada laki-laki. entah tangannya, pundaknya, bahunya, bahkan jemarinya. tapi perempuan bukan sosok yang lemah, lelaki juga bukan sosok yang selalu lebih kuat daripada seorang perempuan bahu laki-laki lebih lebar, sebagai penopang perempuan, pun tangannya yang lebih panjang agar selalu menjaga perempuannya dari hal-hal yang membahayakan. selalu mempertahankan dan menjaga perempuannya agar selalu ada di sampingnya, di pelukannya. lalu apa yang kau rasakan? bukankah itu menenteramkan? bukankah itu menenangkan? wanita dengan tubuh yang mungil, bahu yang lebih sempit serta jemari yang lebih kecil, sebagai pelipur saat apapun yang kau anggap besar menjatuhkanmu membuatmu terduduk sedih. perempuan dengan ...

menerima

Apabila sepasang manusia memutuskan untuk menikah, maka Tuhan mempersatukan mereka. Menghalalkan apa-apa yang semula dikata haram. Apabila sepasang manusia memutuskan untuk menikah, maka Tuhan akan gandakan rizki di antara keduanya. Maka jangan ragukan, karena Tuhan tidak pernah ingkari janjiNya Apabila sepasang manusia telah menikah, terimalah kekurangannya. Sikapnya yang terkadang masih kekanak-kanakan, kebiasaan 'ngorok'nya, mandinya yang lama, bau badannya, kebiasaan yang suka sembarangan meletakkan benda dan barang dimanapun, badannya yang besar atau bahkan kurus, bahkan mungkin ketidak-tegasannya. Apabila sepasang manusia telah menikah, terimalah apapun kekurangannya. Wajahnya yang mungkin tidak secantik yang kau dambakan, tubuhnya yang kurus-jauh dari kemolekan. Tapi perhatikan hatinya yang baik, setia yang diperlihatkannya padamu, kesiapannya untuk mengabdikan diri padamu di sisa umurnya. Kekurangan bukanlah menjadi suatu alasan untuk tidak memperbaiki diri. Ala...

sendiri

Nyatanya, sen diri a dalah hal yang ti dak ingin orang lain rasakan. Betapapun berat usahanya untuk menja di ber dua.  Nyatanya, sen diri a dalah hal yang menyesakkan ketika sa dar bahwa  di hatinya tak a da yang ja di pegangan. Tuhan pun ti dak a da  dalam hatinya Lalu ketika ga dis itu menya dari  dirinya se dang bera da  di tepi, bingung kemana ia harus berpegangan untuk bertahan. Seorang laki-laki berusaha men dekat, entah apa maksu d  daripa da niatnya men dekati ga dis itu. Lelaki itu mengulurkan tangan, tetapi ujung jari ke dua orang tersebut bahkan sulit untuk bertemu. Seorang ga dis mun dur selangkah, se dangkan laki-laki itu maju selangkah. Lalu, ke dua orang tersebut mencoba menerka-nerka apa yang a da  dalam hatinya masing-masing