Langsung ke konten utama

suara bapak



Bisa dikatakan, aku ini anak ibu. Kemanapun selalu bersama ibu, walau hanya jalan berdua, sekedar minum segelas es campur, berburu diskon bersama, memilih sepatu, baju atau apapun. Aku satu-satunya perempuan, karena kedua adikku laki-laki. Itulah sebenarnya agak sulit untuk beradaptasi ketika awal kuliah di Semarang. Apapun harus aku jalani sendiri, menentukan pilihan sendiri. Mungkin itu yang kemudian membuatku dewasa

Ibu dan bapak merupakan sosok yang sangat berbeda. Ibu yang sangat perhatian dengan kuantitas pesan singkat yang tidak pernah luput setiap harinya walau sekedar 'lagi apa sayang?'
Berbeda dengan bapak, beliau bukan tipe orang yang sangat perhatian. Mungkin perhatian (secara langsung) tidak termasuk dalam sifat melankolisnya. Kadang di suatu waktu beliau bisa menjadi sangat sanguinis. Haha, dan aku sangat menikmati itu

Sesekali bapak berbicara, hal itu pasti menyangkut kehidupan. Sangat bermakna, sehingga berhasil membuat aku yang awalnya agak rewel menjadi diam dan berfikir. Ternyata begini ya isi hati seorang ayah. Beliau bukan tipe orang yang pandai berkata-kata, namun diamnya beliau adalah berpikir dan berdoa.
Ini yang sangat dirindukan ketika lama tidak pulang ke rumah.

Kadang merasa iri dengan teman-teman yang berulang kali dijenguk oleh orang tuanya. Jika dihitung, orangtuaku baru singgah 2 kali di Semarang untuk menyengajakan diri berkunjung. Selain itu, mungkin hanya sekedar mampir setengah jam selepas urusan kantor selesai. Aku mengemukakan keinginanku untuk dikunjungi oleh mereka

Dan, apa yang mereka katakan..

"Kak (begitu mereka memanggilku), cobalah kamu bandingkan yang sering dijenguk dengan yang tidak. Pastilah berbeda. Bapak cuma ingin kamu menjadi anak yang mandiri, bukan yang terlalu bergantung dengan orang tuanya karena nanti mungkin kamu akan tinggal lebih jauh dengan keluarga kecilmu. Mereka yang menjenguk sebetulnya hanya memuaskan rasa iba dalam dirinya. Menjenguk bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan kasih sayang. Begitu yaa, paham kan.."


Dan aku hanya bisa diam setelah itu, menenangkan hati dan meng-iya-kan kata-kata bapak barusan.
That's the way he show his love


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan

Tuhan, selalu muncul dengan kejutan entah yang diharapkan maupun yang tak disangka-sangka Tuhan, penggenggam dan pengabul doa terbaik pemegang rahasia terbaik pemberi rencana yang sempurna Tuhan, rasanya baru kemarin aku meminta hari ini Kau tunjukkan semuanya tak perlu hal yang selalu aku minta untuk menjadi bahagia bahagiaMu pasti yang terindah untukku

aplikatif, kumulatif

kalo dikampus kita belajar teori di RS bener-bener belajar praktiknya, atau bahasa ilmiahnya aplikasi keilmuan yang udah didapat di kampus tapi ternyata tidak seindah dan seribet teori seolah teori hanyalah sebagai pondasi yaa bener sii tapi aku juga melihat beberapa penyepelean pada keilmuan tersebut misal teknik spul untuk infus padahal itu enggak boleh dan masih banyak lagii askep pun hanya dibuat seadanya sehingga aku berpikir bahwa hanya yang tampak lah yang diperbaiki sesuatu yang mikro ditinggalkan padahal they didn't realize that something big madeup from little things *ini kumulatif yaa begitulah pemirsah

inilah rasa tenteram

pertanyaan ini sudah lama aku simpan "mengapa bahu laki-laki selalu lebih lebar  daripada perempuan?" mereka bilang, bahu sebagai tempat bersandar. tetapi, jika dilihat dengan seksama, tangan laki-laki pun selalu lebih panjang perempuan diciptakan lebih mungil daripada laki-laki. entah tangannya, pundaknya, bahunya, bahkan jemarinya. tapi perempuan bukan sosok yang lemah, lelaki juga bukan sosok yang selalu lebih kuat daripada seorang perempuan bahu laki-laki lebih lebar, sebagai penopang perempuan, pun tangannya yang lebih panjang agar selalu menjaga perempuannya dari hal-hal yang membahayakan. selalu mempertahankan dan menjaga perempuannya agar selalu ada di sampingnya, di pelukannya. lalu apa yang kau rasakan? bukankah itu menenteramkan? bukankah itu menenangkan? wanita dengan tubuh yang mungil, bahu yang lebih sempit serta jemari yang lebih kecil, sebagai pelipur saat apapun yang kau anggap besar menjatuhkanmu membuatmu terduduk sedih. perempuan dengan ...